Sunday, September 13, 2026

Ketika Keselamatan Lebih Penting daripada Puncak

Kisah pendakian Gunung Sundoro sekitar tahun 1994 ini bukan sekadar cerita tentang mencapai puncak. Bersama sekitar tiga puluh mahasiswa Geologi angkatan 1993 dalam kegiatan Sundoro Clean Up, penulis justru menghadapi situasi ketika keselamatan menjadi jauh lebih penting daripada ambisi pendakian.

Hujan yang turun tanpa henti, badai, dan kabut tebal membuat beberapa anggota rombongan mengalami gejala hipotermia. Rombongan akhirnya memutuskan turun. Seorang mahasiswi bahkan harus ditinggalkan sementara bersama beberapa pendamping, sementara penulis turun ke basecamp mencari bantuan sebelum kembali naik bersama tim penyelamat.

Drama belum berakhir. Dalam perjalanan turun, Mas NCP tiba-tiba pingsan akibat hipotermia. Di tengah gelap dan hujan, penulis harus mengambil keputusan cepat. Ransel, makanan, sleeping bag, dan perlengkapan lainnya ditinggalkan di jalur. Dengan tenaga yang tersisa, ia memapah, memikul, bahkan menyeret tubuh sahabatnya menuruni Sundoro.

Kisah ini memperlihatkan sisi pendakian yang sering terlupakan. Keberhasilan bukan selalu ditandai dengan berdiri di puncak. Ada saatnya keputusan untuk turun justru menjadi keputusan paling berani.

Sebab perlengkapan yang hilang masih bisa diganti. Nyawa seorang sahabat tidak.

kisah selengkapnya kariswisata.com 

0 comments: